Sabtu, 05 September 2015
Sinopsis Ashoka Samrat episode 2
Sinopsis Ashoka Samrat episode 2
Bindusara telah sadar dari pingsannya. Dengan
tertatih-tatih dia keluar dari gubuk dan menatap kesekelling. Tiba-tiba dia
mendengar suara seorang wanita. Bindusara menoleh, dia melihat Dupatrati sedang
memberi wejangan pada anak didiknya, para pendeta muda tentang bagaimana
mengendalikan amarah, balas dendam, memaafkan dan mencintaiserta melindungi sesama.. Bindusara mendengarkan
wejangan Dupatrati dengan wajah penuh ketertarikan. Bindusara tersenyum. Dia
teringat perjuangan Dupatrarti dan kawan-kawan saat mengobatinya dan membuatnya
sadar dari pingsan. Bindusara juga teringat bagaimana dia di serang, terbayang
kembali saat anak panah melayang dan menancap di dadanya. Ada tatapan marah dan
penuh dendam di matanya. Terbayang kembali bagaimana musuh membantai
prajuritnya dan bagaimna dia melarikan diri hingga terjatuh ke dalam air terjun.
Dupatrati masuk kedalam gubuk sambil membawa mangkok obat. Tapi tidak
menemukan Bindusara. Dengan was-was, Dupatrati berlari keluar dan bergegas
mencari Bindu. Dia melihat Bindu berjalan tergesa menyeberangi danau. Dupatrati
mengejarnya, “aku menunggu beberapa hari hingga kau sembuh untuk bertanya
bagaimana semua ini bisa terjadi? bagaimana kau sampai di serang.
Tapi kau pergi tanpa mengatakan sesuatu. Jika kau bertanya padaku, maka aku tidak akan membiarkan kau pergi dari sini karena kau belum sembuh total.” Bindu menjawab, “aku harus segera kembali, dewi.” Tapi Dupatrati mencegahnya karena dia belum sembuh benar, “tidakkah kau berpikir kalau musuh dapat menemukanmu?” Bindu menjawab, “mereka berhasil melukaiku sekali, tapi sekarang aku akan…” Dupatrati memotong, “kalau kekerasan di balas kekerasan, lalu bagaimana kekerasan ini akan berakhir?” BIndu menyahut, “kalau kau berada di posisi ku, kau akan tahu, dewi.” Dupat balas berkata, “aku tidak punya musuh, tidak terluka, tidak punya masalah, tidakkah kau ingin berada di posisi saya?” Bindusara menatap Dupat dan merasa meragu. Dupat mengajak Bindusara kembali kepondok dan beristirahat. Bindu teringat kebaikan Dupatratri. Dupar berkata, “sampai kau sehat benar, keselamatanmu menjadi tanggung jawabku. Ikutlah denganku!” Dupatrati membalikan badan hendak melangkah peri. Tapi Bindusara menahanya dengaan bertanya,
“kau siapa? Kenapa aku merasa tidak lengkap setelah bertemu denganmu? Mengapa aku merasa setiap kata yang kau ucapkan adalah benar? Ketika kau berbicara tentang kedamaian aku memikirkan mengapa orang-orang menganggap anak perempuan tidak berharga? Ketika berada di dekatku, aku merasa lengkap. Kau menyelamatkan hidupku!” Dupat menyahut, “aku hanya menjalankan kewajibanku.” Bindusara berkata kalau kewajiban Dupat memberinya hidup baru, “aku tidak tahu namamu, tapi bagiku kau adalah Dharma.” Dupat menatap Bindu dengan tertegun. Bidu berkata lagi, “kau memberiku kehidupan dengan membawaku ke rumahmu. Berilah aku satu kehidupan lagi dengan memberiku tempat dihidupmu, di hatimu..” Bindu mengulurkan tanganya meminang Dupat. Dupat menatap Bindu dengan tegang, tak tahu harus berkata apa. Setelah lama saling tatap dan berada dalam keraguan, akhirnta Dupatrati membalas uluran tangan Bindusara… keduanya terlihat bahagia..
Tapi kau pergi tanpa mengatakan sesuatu. Jika kau bertanya padaku, maka aku tidak akan membiarkan kau pergi dari sini karena kau belum sembuh total.” Bindu menjawab, “aku harus segera kembali, dewi.” Tapi Dupatrati mencegahnya karena dia belum sembuh benar, “tidakkah kau berpikir kalau musuh dapat menemukanmu?” Bindu menjawab, “mereka berhasil melukaiku sekali, tapi sekarang aku akan…” Dupatrati memotong, “kalau kekerasan di balas kekerasan, lalu bagaimana kekerasan ini akan berakhir?” BIndu menyahut, “kalau kau berada di posisi ku, kau akan tahu, dewi.” Dupat balas berkata, “aku tidak punya musuh, tidak terluka, tidak punya masalah, tidakkah kau ingin berada di posisi saya?” Bindusara menatap Dupat dan merasa meragu. Dupat mengajak Bindusara kembali kepondok dan beristirahat. Bindu teringat kebaikan Dupatratri. Dupar berkata, “sampai kau sehat benar, keselamatanmu menjadi tanggung jawabku. Ikutlah denganku!” Dupatrati membalikan badan hendak melangkah peri. Tapi Bindusara menahanya dengaan bertanya,
“kau siapa? Kenapa aku merasa tidak lengkap setelah bertemu denganmu? Mengapa aku merasa setiap kata yang kau ucapkan adalah benar? Ketika kau berbicara tentang kedamaian aku memikirkan mengapa orang-orang menganggap anak perempuan tidak berharga? Ketika berada di dekatku, aku merasa lengkap. Kau menyelamatkan hidupku!” Dupat menyahut, “aku hanya menjalankan kewajibanku.” Bindusara berkata kalau kewajiban Dupat memberinya hidup baru, “aku tidak tahu namamu, tapi bagiku kau adalah Dharma.” Dupat menatap Bindu dengan tertegun. Bidu berkata lagi, “kau memberiku kehidupan dengan membawaku ke rumahmu. Berilah aku satu kehidupan lagi dengan memberiku tempat dihidupmu, di hatimu..” Bindu mengulurkan tanganya meminang Dupat. Dupat menatap Bindu dengan tegang, tak tahu harus berkata apa. Setelah lama saling tatap dan berada dalam keraguan, akhirnta Dupatrati membalas uluran tangan Bindusara… keduanya terlihat bahagia..
Akhirnya Bindusara menikahi Dharmanya. Keduanya terlihat bahagia
duduk bersanding di depan altar saling mengucapkan sumpah setia. Dan di malam
perkawinan mereka, Bindusara mendatangi Dharma di kamarnya. Keduanya dududk di
pembaringan, Dharma tersipu malu saat Bindusara menyentuhnya. Mereka saling
bertatapan… “Dharma…” panggil Bindusara.
Pagi harinya, Bindusara terbangun. Dia menoleh ke samping dan tidak menemukan Dharma. Bindu terlihat berpikir sesaat, lalau seulas senyum tersungging di bibirnya. Di luar, sekelompok penunggang kuda di pimpin Mir Khorasan menghampiri pondok Dharma. Khorasan turun dari kudanya dan melangkah memasuki rumah sambil hendak mencabut pedang untuk berjaga-jaga. Tiba-tiba muncul Bindusara menghadang Mir Khorasan sambil mengayunkan tongkat. Keduanya saling bertatapan. Mir Khorasan terkejut melihat Bindu masih hidup. Dia teringat keteguhan Chanakya yang begitu yakin kalau Bindu masih hidup.
Khorasan menyapa Bindu, “kau masih hidup?” Dengan sarkastis Bindu bertanya, “tidakkah kau bahagia melihat aku masih hidup?” Khorasan menjawab, “aku berjanji pada Noot untuk membawamu pulang, dan kau bertanya apakah aku bahagia atau tidak?” Bindu berkata kalau dia tidak percaya pada siapapun sekarang. Khorasan memberitahu Bindusara klau putranya tewas dalam serangan itu dan anak gadisnya menjadi janda sebelum menikah. Khorasan mengajak Bindusara pergi bersamanya karena seluruh Magadha menannti kedatangannya, “begitu jiga Noor, dia menunggu kedatanganmu!” Bindu memberitahu Khorasan kalau dia tidak bisa menikahi Noor. Khorasan kaget dan berkata kalau dirinya bisa menerima apapun, kecuali penghinaan, “kalau seperti itu, kami tidak akan membantumu melindungi Magadha. Apa yang terjadi padamu? Mengapa kau menolak menikahi Noor? Mengapa kau melanggar janjimu Samrat Bindusara?” Dharma berdiri mendengarkan pembicaraan itu terkejut, dia terlihat bingung, “Samrat Bindusara?” Tempayan yang di bawa Dharma terlepa dari tanganya dan jatuh ketanah menghasilkan suara yang berisik. Bindusara menoleh kearah Dharma.Khorasan yang kaget, segera menghunus pedangnya kearah Dharma. Dharma berjalan mendekati mereka. Khorasan bertanya, “siapa kau?” Sambil menatap Bindusara, Dharma menjawab, “Pelayan Samrat.” Dengan tongkatnya, Bindusara menurunkan pedang Khorasan yang terhunus kearah Dharma. Bindusara memberitahu Khorasan kalau Dharma adalah orang yang menyelamatkan nyawanya dan dia juga adalah..
Pagi harinya, Bindusara terbangun. Dia menoleh ke samping dan tidak menemukan Dharma. Bindu terlihat berpikir sesaat, lalau seulas senyum tersungging di bibirnya. Di luar, sekelompok penunggang kuda di pimpin Mir Khorasan menghampiri pondok Dharma. Khorasan turun dari kudanya dan melangkah memasuki rumah sambil hendak mencabut pedang untuk berjaga-jaga. Tiba-tiba muncul Bindusara menghadang Mir Khorasan sambil mengayunkan tongkat. Keduanya saling bertatapan. Mir Khorasan terkejut melihat Bindu masih hidup. Dia teringat keteguhan Chanakya yang begitu yakin kalau Bindu masih hidup.
Khorasan menyapa Bindu, “kau masih hidup?” Dengan sarkastis Bindu bertanya, “tidakkah kau bahagia melihat aku masih hidup?” Khorasan menjawab, “aku berjanji pada Noot untuk membawamu pulang, dan kau bertanya apakah aku bahagia atau tidak?” Bindu berkata kalau dia tidak percaya pada siapapun sekarang. Khorasan memberitahu Bindusara klau putranya tewas dalam serangan itu dan anak gadisnya menjadi janda sebelum menikah. Khorasan mengajak Bindusara pergi bersamanya karena seluruh Magadha menannti kedatangannya, “begitu jiga Noor, dia menunggu kedatanganmu!” Bindu memberitahu Khorasan kalau dia tidak bisa menikahi Noor. Khorasan kaget dan berkata kalau dirinya bisa menerima apapun, kecuali penghinaan, “kalau seperti itu, kami tidak akan membantumu melindungi Magadha. Apa yang terjadi padamu? Mengapa kau menolak menikahi Noor? Mengapa kau melanggar janjimu Samrat Bindusara?” Dharma berdiri mendengarkan pembicaraan itu terkejut, dia terlihat bingung, “Samrat Bindusara?” Tempayan yang di bawa Dharma terlepa dari tanganya dan jatuh ketanah menghasilkan suara yang berisik. Bindusara menoleh kearah Dharma.Khorasan yang kaget, segera menghunus pedangnya kearah Dharma. Dharma berjalan mendekati mereka. Khorasan bertanya, “siapa kau?” Sambil menatap Bindusara, Dharma menjawab, “Pelayan Samrat.” Dengan tongkatnya, Bindusara menurunkan pedang Khorasan yang terhunus kearah Dharma. Bindusara memberitahu Khorasan kalau Dharma adalah orang yang menyelamatkan nyawanya dan dia juga adalah..
Belum selsai Bindusara menyelesaikan
kalimatnya, Dharma sudah bersimpuh di hadapan Bindu sambil menyembah, “Samrat, sayaberuntung telah melayani anda.
Anda telah sembuh sekarang. Pergilah, rakyatmu, negerimu..membutuhkan dirimu.
Penuhi janji yang telah kau buat.
Aku menjaga hidupmu seperti kau menjaga Magadha. Pergilah…!” Khorasan mengajak
Bindu peri. Bindu menatap Dharma untuk terakhir kali lalu dia peri bersama rombongan
Khorasan.
Dlam pernjalanan, Binndusara teringat bagaimana Dharma meminta
Bindu memenuhi janjinya. Bindu mengatakan kalau Dharma kini adalah istrinya dan
itu suatu kebenaran, “kau istriku, kau ratu. Tempatmu adalah di istana.” Dharma
mengingatkan Bindusara kalau cinta yang membuat Bindu mekupakan tugasnya
bukanlah cinta, “cinta kita harus menjadi sebuah keberuntungan untuk Magadha.”
Bindusara setuju dengan ucapan Dharma dan berjanji kalau dirinya akan kembali
begitu kewajibannya terpenuhi. Dharma menyahut, “aku tidak membutuhkan janjimu.
Aku percaya kau akan kembali.” Keduanya saling bertatapan dan tersenyum.
Sebelum pergi, Bindusara memberikan sebuah cincin pada Dharma.
Di istana Magadha sedang verlangsung prosesi penobatan Justin
menjadi Raja Magadha. Pendeta mengumumkan kalau mulai sekarang putra raja
Chadragupta Maurya, pangeran Justin akan menjadi raja Magadha, dan semua
perintahnya harus di patuhi. Justin tersenyum licik sambil melirik mahkota dan singgasana. lalu
setelah arti selesai di lakukan, dengan tamak dia melangkah menuju singgasana.
Justin dan Helena saling berpandangandan tersenyum bahagia. Sekelompok resi
menghampiri Helena dan menyodorkan baki yang berisi mahkota. Helena hendak
memakaikan mahkota itu ke kepala Justin ketika tiba-tiba terdengar suara
Khorasan menyuruhnya berhenti. Helena dan Justin terlihat marah dan heran,
dengan sengit Helena bertanya, “kenapa?” Khorasan tidak menjawab, dia hanya
melangkah minggir untuk memberi jalan. Dari belakangnya, muncul Samrat
Bindusara.
Semua yang hadir tertegun dan senang melihatnya kcuali Pendeta yang bersekongkol, Helena dan Justin. Bindusara berjalan dengan gagah ke arah singgasana.
Helena dan Justin saling berpandangan, helena memberi isyarat pada Justin, Justin mengangguk. Helena melirik Mahkota di tangannya dengan tatapan kecewa. Begitu Bindusara dekat, Helena segera meletakan mahkota di nampan dan berlari menyambut Bindusara dengan wajah pura-pura bahagia.Dengan senyum penuh kepalsuan, Helena berkata, “sekarang Mgadha tidak perlu apa-apa lagi. Samrat Bindusara sudah kembali dengan selamat.” Dengan kepiawaiannya menyembunyikan rasa kecewa, Helena memimpin yang hadir mengelu-elukan Bindu. Charumitra dengan airmata bahagia memberi hormat pada Bindusara sambil berkata, “melihat anda baik-baik saja, saya percaya pada tuhan lagi. Saya yakin Sushim tidak akan menjadi yatim.” Bindusara tersenyum pada Charumitra dan tersenyum penuh pengertian. Bindusara kemudian menghampiri tahtanya dan di sambut Justin dengan wajah penuh penyesalan, “aku pikir, Magadha kehilangan segalanya, tapi ternyata tidak…” Justin memeluk Bindu dan menampakkan sifat licik di balik punggungnya. Bindussara melepas pelukan Justin. Kembali terdengar suara khalayak mengelu-elukan namanya. Justin mempersilahkan Bindusara menuju tahtanya, sementara dirinya, seperti pahlawan kalah perang meninggalkan singgasana dengan wajah penuh ketidakpuasan. Helena memasangkan Mahkota ke kepala Bindusarasambil berkata, “aku tidak bisa menerima bahwa kau sudah mati. AKu percaya kau masih hidup, dengan kembalimu, tuhan membuatku bahagia. Setelah apa yang terjadi di Magadha, kini semua akan baik-baik saja.” Justi menyambut ucapan ibunya dengan sengit, “tapi kita harus cari tahu siapa yang mencoba membunuh Samrat. Dia harus di beri hukuman yang berat.” Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, semua mata tertuju ke pintu gerbang. Di sana dengan langkah pelan namun pasti, Chanakya berdiri dengan penuh wibawa, menatap Bindusara dengan tatapan penuh kasih sayang. Semua yang hadir berdiri memberihormat. Begitu pula Bindusara dan anggota kerajaan. Chankya mengangkat tangan, Bindusara kembali duduk di tahtanya. Dengan saura tegas berwibawa, Chanakya berkata, “tidak akan terjadi apa-apa dengan membunuh preman-preman itu. Karena musuh sebenarnya adalah dia yang menyuruh preman-preman itu membunuh samrat.” Chanakya melambaikan tanganya ke belakang, Helena dan Justin terlihat tegang ketika salah seorang preman yang tertangkap di bawah masuk. Lalu dengan sengit keduanya ibu anak itu bergantian menanyai preman. Ketika Justin maju hendak memukulnya, Chanakya melarang. Chanakya menyuruh preman memberitahu siapa yang menyrusuh dirinya membunuh Bindusara. Preman mengatakan tidak tahu siapa dia, karena orang itu memakai kedok. Orang itu berkata kalau dirinya akan di beri uang yang banyak kalau mau membunuh raja. Bukan itu saja, bahkan orang itu berjanji kalau Samrat baru di nobatkan, dia akan diangkat sebagai kepala pasukan Magadha. Mendengar itu Justin berteriak, “diangkat menjadi kepala pasukan? Sebelum itu terjadi aku akan membunuhmu sekarang.” Justin mengangkat pedangnya.
Tapi sebelum pedang itu mengenainya, si preman sudah jatuh tersungkur dengan wajah membiru. Dokter di panggil untuk memeriksanya. Helena berkata kalau hidup preman itu sangat penting, “dia bisa membawa kita pada musuh sebenar.” Tapi tabib mengatakan kalau nyawa preman itu sudah tidak tertolong lagi karena dia telah minum racun. Dan racun itu dapat membunuh siapapun. Helena berkata kalau dia tahu racun apa itu, “itu adalah racun yang sama yang menyebabkan tanda bitu di kepalamu Samrat.” Bindu menyentuh tanda biru di keningnya. Helena memberitahu kalau racun itu adalah racun yang sama yang di berikan pada ibu Bindu saat dia masih ada dalam rahimnya. Dengan heran Bindusara bertanya, “ibu saya di beri racun?” Helena mengangguk. Chanakya mengatakan kalau itu bukan yang sebenarnya. Helena menanyai Chanakya, “bukankah ratu durdhara terbunuh oleh racun ini? Dan hanya dirimu saja yang membawa racun itu masuk ke istana, achari?” Chanakya menjawab, “ya. AKu yang memberikan racun itu. Tapi alasan sebenarnya adalah…” Helena mengejar, “kau tidak bisa mengatakan alasan sebenarnya. Aku tidak bisa memaafkanmu untuk itu!” Akhirnya demi memperjelas masalah, Chanakya memberitahu bindusara kalau dirinya dulu selalu memberikan racun itu pada Raja Chandragupta dalam jumlah kecil. Chandragupta tahu itu. Semua itu Chanakya lakukan agar Chandraagupta kebal terhadap racun jika ada musuh yang berniat meracuninya. Tapi entah bagaimana caranya, racun itu masuk kedalam tubuh ibu bindusara. Sebenarnya dengan jumlah racun yang sedikit itu, nyawa ratu bisa di selamatkan, tapi Bindusara masih ada di dalam rahimnya. Demi menyelamatkan Bindusara, dan masa depan Magadha, maka dengan sangat terpaksa mereka membelah perut ratu untuk mengeluarkan bindu. Mendengar cerita itu, Bindu dengan wajah sedih bertanya pada Chanakya, “mengapa anda tidak pernah menceritakan perihal ini ssebelumnya?” Chanakya menjawab pertanyaan Bindu dengan rasa sesal, “jika anda anggap saya membunuh ibumu, kalau anda berpikir begitu, maka anda boleh menghukum ku. Saya siap di hukum mati.
Saya tidak akan melawan tuduhan ini. Saya hanya menjalankan kewajiban sayauntuk Magadha. Pengorbanan dan jasa saya untuk Magadha. Keputusan ada di tangan anda, Samrat.” Justin menimpali, “Achari benar. Apakah anda masih berpikir kalau Achari bukan pelakunya? kami menunggu keputusan anda.” Helena turut bersuara, “kejahatan adalah kejahatan. Dan hukuman setimpal untuk siapa saja yang melakukan kejahatan.” Bindu terlihat berpikir keras dan ragu untuk mengeluarkan keputusan. Suasana menjadi tegang. Semua menanti keputusan Bindu. Chankya yang melihat keraguan Bindu berkata, “ketegangan ini tidak terlihat baik untuk seorang samrat. Di negara yang kulayani seumur hidupku, negara yang sama, jika niatku di ragukan, maka aku tidak layak untuk Magadha. Aku akan pergi dari istana. Mungkin aku berada jauh dari istana, tapi Magadha tidak bisa jauh dari dariku. Aku akan selalu berdoa untuk magadha. Dan kapan saja Magadha membutuhkan aku, aku pasti akan kembali untuk Magadha.” Setelah memberi hormat, Chanakya dan rombongan meninggalkan istana Bindusara. Helena, Justin dan pendeta saling lirik dengan senyum licik tersungging di bibir. Charumitra menatap prihatin kearah Bindusara yang terlihat sedih dan kecewa tapi tak tahu harus mencegah atau membiarkan Chanakya meninggalkan istananya.
Semua yang hadir tertegun dan senang melihatnya kcuali Pendeta yang bersekongkol, Helena dan Justin. Bindusara berjalan dengan gagah ke arah singgasana.
Helena dan Justin saling berpandangan, helena memberi isyarat pada Justin, Justin mengangguk. Helena melirik Mahkota di tangannya dengan tatapan kecewa. Begitu Bindusara dekat, Helena segera meletakan mahkota di nampan dan berlari menyambut Bindusara dengan wajah pura-pura bahagia.Dengan senyum penuh kepalsuan, Helena berkata, “sekarang Mgadha tidak perlu apa-apa lagi. Samrat Bindusara sudah kembali dengan selamat.” Dengan kepiawaiannya menyembunyikan rasa kecewa, Helena memimpin yang hadir mengelu-elukan Bindu. Charumitra dengan airmata bahagia memberi hormat pada Bindusara sambil berkata, “melihat anda baik-baik saja, saya percaya pada tuhan lagi. Saya yakin Sushim tidak akan menjadi yatim.” Bindusara tersenyum pada Charumitra dan tersenyum penuh pengertian. Bindusara kemudian menghampiri tahtanya dan di sambut Justin dengan wajah penuh penyesalan, “aku pikir, Magadha kehilangan segalanya, tapi ternyata tidak…” Justin memeluk Bindu dan menampakkan sifat licik di balik punggungnya. Bindussara melepas pelukan Justin. Kembali terdengar suara khalayak mengelu-elukan namanya. Justin mempersilahkan Bindusara menuju tahtanya, sementara dirinya, seperti pahlawan kalah perang meninggalkan singgasana dengan wajah penuh ketidakpuasan. Helena memasangkan Mahkota ke kepala Bindusarasambil berkata, “aku tidak bisa menerima bahwa kau sudah mati. AKu percaya kau masih hidup, dengan kembalimu, tuhan membuatku bahagia. Setelah apa yang terjadi di Magadha, kini semua akan baik-baik saja.” Justi menyambut ucapan ibunya dengan sengit, “tapi kita harus cari tahu siapa yang mencoba membunuh Samrat. Dia harus di beri hukuman yang berat.” Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki, semua mata tertuju ke pintu gerbang. Di sana dengan langkah pelan namun pasti, Chanakya berdiri dengan penuh wibawa, menatap Bindusara dengan tatapan penuh kasih sayang. Semua yang hadir berdiri memberihormat. Begitu pula Bindusara dan anggota kerajaan. Chankya mengangkat tangan, Bindusara kembali duduk di tahtanya. Dengan saura tegas berwibawa, Chanakya berkata, “tidak akan terjadi apa-apa dengan membunuh preman-preman itu. Karena musuh sebenarnya adalah dia yang menyuruh preman-preman itu membunuh samrat.” Chanakya melambaikan tanganya ke belakang, Helena dan Justin terlihat tegang ketika salah seorang preman yang tertangkap di bawah masuk. Lalu dengan sengit keduanya ibu anak itu bergantian menanyai preman. Ketika Justin maju hendak memukulnya, Chanakya melarang. Chanakya menyuruh preman memberitahu siapa yang menyrusuh dirinya membunuh Bindusara. Preman mengatakan tidak tahu siapa dia, karena orang itu memakai kedok. Orang itu berkata kalau dirinya akan di beri uang yang banyak kalau mau membunuh raja. Bukan itu saja, bahkan orang itu berjanji kalau Samrat baru di nobatkan, dia akan diangkat sebagai kepala pasukan Magadha. Mendengar itu Justin berteriak, “diangkat menjadi kepala pasukan? Sebelum itu terjadi aku akan membunuhmu sekarang.” Justin mengangkat pedangnya.
Tapi sebelum pedang itu mengenainya, si preman sudah jatuh tersungkur dengan wajah membiru. Dokter di panggil untuk memeriksanya. Helena berkata kalau hidup preman itu sangat penting, “dia bisa membawa kita pada musuh sebenar.” Tapi tabib mengatakan kalau nyawa preman itu sudah tidak tertolong lagi karena dia telah minum racun. Dan racun itu dapat membunuh siapapun. Helena berkata kalau dia tahu racun apa itu, “itu adalah racun yang sama yang menyebabkan tanda bitu di kepalamu Samrat.” Bindu menyentuh tanda biru di keningnya. Helena memberitahu kalau racun itu adalah racun yang sama yang di berikan pada ibu Bindu saat dia masih ada dalam rahimnya. Dengan heran Bindusara bertanya, “ibu saya di beri racun?” Helena mengangguk. Chanakya mengatakan kalau itu bukan yang sebenarnya. Helena menanyai Chanakya, “bukankah ratu durdhara terbunuh oleh racun ini? Dan hanya dirimu saja yang membawa racun itu masuk ke istana, achari?” Chanakya menjawab, “ya. AKu yang memberikan racun itu. Tapi alasan sebenarnya adalah…” Helena mengejar, “kau tidak bisa mengatakan alasan sebenarnya. Aku tidak bisa memaafkanmu untuk itu!” Akhirnya demi memperjelas masalah, Chanakya memberitahu bindusara kalau dirinya dulu selalu memberikan racun itu pada Raja Chandragupta dalam jumlah kecil. Chandragupta tahu itu. Semua itu Chanakya lakukan agar Chandraagupta kebal terhadap racun jika ada musuh yang berniat meracuninya. Tapi entah bagaimana caranya, racun itu masuk kedalam tubuh ibu bindusara. Sebenarnya dengan jumlah racun yang sedikit itu, nyawa ratu bisa di selamatkan, tapi Bindusara masih ada di dalam rahimnya. Demi menyelamatkan Bindusara, dan masa depan Magadha, maka dengan sangat terpaksa mereka membelah perut ratu untuk mengeluarkan bindu. Mendengar cerita itu, Bindu dengan wajah sedih bertanya pada Chanakya, “mengapa anda tidak pernah menceritakan perihal ini ssebelumnya?” Chanakya menjawab pertanyaan Bindu dengan rasa sesal, “jika anda anggap saya membunuh ibumu, kalau anda berpikir begitu, maka anda boleh menghukum ku. Saya siap di hukum mati.
Saya tidak akan melawan tuduhan ini. Saya hanya menjalankan kewajiban sayauntuk Magadha. Pengorbanan dan jasa saya untuk Magadha. Keputusan ada di tangan anda, Samrat.” Justin menimpali, “Achari benar. Apakah anda masih berpikir kalau Achari bukan pelakunya? kami menunggu keputusan anda.” Helena turut bersuara, “kejahatan adalah kejahatan. Dan hukuman setimpal untuk siapa saja yang melakukan kejahatan.” Bindu terlihat berpikir keras dan ragu untuk mengeluarkan keputusan. Suasana menjadi tegang. Semua menanti keputusan Bindu. Chankya yang melihat keraguan Bindu berkata, “ketegangan ini tidak terlihat baik untuk seorang samrat. Di negara yang kulayani seumur hidupku, negara yang sama, jika niatku di ragukan, maka aku tidak layak untuk Magadha. Aku akan pergi dari istana. Mungkin aku berada jauh dari istana, tapi Magadha tidak bisa jauh dari dariku. Aku akan selalu berdoa untuk magadha. Dan kapan saja Magadha membutuhkan aku, aku pasti akan kembali untuk Magadha.” Setelah memberi hormat, Chanakya dan rombongan meninggalkan istana Bindusara. Helena, Justin dan pendeta saling lirik dengan senyum licik tersungging di bibir. Charumitra menatap prihatin kearah Bindusara yang terlihat sedih dan kecewa tapi tak tahu harus mencegah atau membiarkan Chanakya meninggalkan istananya.
Pengumuman segera di sebarluaskan ke seantero negeri kalau
Samrat Bindusara masih hidup dan baik-baik saja. Serta rakyat yang datang
memberi informasi tentang musuh akan mendapat hadiah. Raja Veer yang pernah
mengaku menjadi rasa Magadha dan menyebabkan Magadha berada dalam lautan api di
hajar habis-habisan oleh Khorasan dan di penggal kepalanya di hadapan rakyat.
Magadha kembali damai di bawah pemerintahan Samrat Bindusara.
Di desa, Ayah Dharma meminta dharma mengirim kabar pada Samrat
Bindusara akan kehamilannya. Tapi Dharma menolak, “jika dia tahu bahwa saya
mengandung anaknya, dia akan meninggalkan tugasnya. Dia telah berjanji akan
datang kembali setelah melakukannya tugasnya itu.” Bersamaan dengan itu,
Bindusara benar-benar melaksanakan tugasnya dengan baik. Dia menangkapi
penjahat dan musuh negara serta menciptakan kedamaian di Magadha. Semua rakyat
mengelu-elukan Samrat di manapun dia berada.
Di halaman rumah, ayah Dharma sedang melakukan puja. Dharma
berdiri di depan pintu memperhatikan sambil mengelus perutnya yang semakin
besar. tatapan Dharma melayang jauh. Di ateringat cincin pemberian Bindusara.
Dharma menatap cincin itu dan tersenyum penuh harap.
Di istana, Bindusara yang di cekap kerinduan pada Dharma
menghibur diri dengan minum anggur sampai jatuh tertidur. Dharma pun begitu.
Hari-harinya di lalui dengan penuh kerinduan pada Bindu. Sambil memasak Dharma
membayangkan kembali kenangan indahnya bersama Bindusara. Dia mengelus
perutnya. Tanpa sadar air mata menetes di pipinya. Jika terdengar langkah kaki
kuda lewat di jalan depan rumahnya, Dharma segera berlari menyambut, berharap
itu adalah derap kaki kuda Bindusara. Tapi harapan hanya tinggal harapan.
Bindusara tidak kunjung datang. Dharma hanya bisa memeluk tiang pagar sambil
menangis penuh rindu.
Beberapa waktu kemudian, Bindusara memenuhi janjinya untuk
menikahi Noor Khorasan. Pesta meriahpun di gelar. Di malam perkawinan,
Bindusara mendatangi Noor di kamarnya. Saat memasuki pintu, Bindu teringat
upacara pernikahannya dengan Dharma. Tapi dengan cepat Bindu membuang jauh
pikiran itu. Bindu mendekati Noor dan duduk di pembaringan. Dia menatap Noor yang
cantik dengan penuh kekaguman. Noor melirik mesra ke arah Bindusara dan
berkata, “hatiku telah di curi oleh anda dalam kompetisi itu. Dan hari ini saya
menyerahkan tubuhku padamu.” Noor merebahkan tubuhnya. Bindusara tersenyum dan
iku rebah miring di samping Noor. Dengan lembut Bindusara menyentuh Noor. Noor
malas menyentuh pundak BIndu. Tiba-tiba Bindu teringat malam pertamanya dengan
Dharma. Dengan cepat Bindu menarik tubuhnya menjauhi Noor. Noor tersentak
bangun. Dengan kecewa Noor bertanya, “siapa dia yang membuatmu menjauhi ku?”
Bindu menjawab, “seseorang yang membuat aku sadar akan tugasku. Yang memaksaku
memenuhi janjiku pada Magadha. Aku tidak memberitahu siapapun tentang dia. AKu
tidak akan bisa mencintaimu seperti aku mencintai dia. Maafkan aku!” Bindusara
emberitahu Noor kalau dia menikahi dirinya hanya untuk memenuhi janjinya pada
Khorasan, “aku telah memberikan hati dan tuuhku pada orang yang telah
menyelamatkan aku. Setelah bertemu dengannya aku merasa lengkap. Aku akan
segera membawanya kesini. Dia sangat baik dan kau akan senang bertemu
denganya.” Noor merasa cemburu dengan menahan geram yang disembunyikannya di
balik senyuman,dia bertanya, “siapa dia? tak bolehkah aku mengetahui namanya?”
Bindusara teringat saat dia memberi nama Dupatrati dengan Dharma. Bindusara
tersenyum, “namanya Dharma.”
Noor berlari keluar dari kamar sambil menangis. Dia berpapasan
dengan Khorasan. Melihat putrinya tidak bahagia di malam pengantinya, Khorasan
bertanya, “kenapa Noor?” Noor memberitahu Khorasan kalau Bindusara telah jatuh
cinta pada Dharma dan akan menjadikannya seorang ratu, “dia telah menikahinya.”
Khorasan berguman, “mustahil!” Dia ingat saat dia bertemu Dharma dan bIndusara
mengenalkan gadis itu padanya. Dengan geram Khorasan berkata, “Noor, aku bisa membakar
apapun hingga menjadi abu untuk menghentikan airmatamu.”
Dharma sedang duduk di halaman sambil menumbuk sesuatu ketika
Khorasan datang. Dengan wajah bahagia, Dharma menyambutnya, “aku tahu dia akan
memanggilku. Silahkan masuk, aku akan bersiap-siap.” Khorasan dengan geram
berkata, “dia Samrat. Dia menghabiskan malam bersamamu dan kau berpikir akan
menjadi ratu Magadha?” Dharama tertegun kaget. Dia teringat bagaimana Bindusara
melamarnya, lalu mereka menikah dan melakukan malam pengantin. Dharma berkata,
“apa yang anda katakan? Dia menikahiku dan saya sedang mengandung anaknya.”
Dengan licik Khorasan berkata, “dia tahu hal ini akan terjadi, karena itu dia
menyuruhku untuk menghabisimu.” dengan pedang terhunus, Khorasan siap menebas
Dharma.
Tapi ayah Dharma yang mendegar ribut-ribut keluar dan membentak Khorasan, “beraninya kau berkata seperti itu padanya!” Khorasan dengan sekuat tenaga menedang dada orang tua itu dan menebas lehernya. Dharma berteriak, “ayah!” Tapi tak bis aberbuat apa-apa. Melihat dirinya dalam bahaya, Dharma segera melarikan diri masuk kedalam rumah danmenguncinya. Khorasan dan anak buahnhya menunggu di depan pintu gerbang. Melihat Dharma mengurung diri di pondok, Khorasan memerintahkan anak buahnay membakar pondok itu. Seketika itu juga api melahap pondok beratap alang-alang itu. Dalam pondok Dharma tergeletak di lantai sambil mengerang kesakitan. Rintihannya terdengar sampai ketelinga Khorasan. Khorasan tersenyum puas. Setelah api semakin besar, Khorasan mengajak anak buahnya meninggalkan rumah Dharma.
Dalam kesakitannya Dharma berdoa memohon bantuan dari dewa. Lalu muncullah singa yang perkasa. Sambil mengaum, singa itu berputar mengintari ruangan. APi pun berhenti menyebar. Sang singa kemudian mengaum keras. Bersamaan dengan itu Dharma melahirkan. Kembali singa mengaum keras. Dengan di kelilingi oleh api yangbelum padam, Dharma membopong bayinya sambil berkata penuh bahagia, “aku menjadi lengkap setelah memilikimu. Kau akan di panggil Ashoka.”
Tapi ayah Dharma yang mendegar ribut-ribut keluar dan membentak Khorasan, “beraninya kau berkata seperti itu padanya!” Khorasan dengan sekuat tenaga menedang dada orang tua itu dan menebas lehernya. Dharma berteriak, “ayah!” Tapi tak bis aberbuat apa-apa. Melihat dirinya dalam bahaya, Dharma segera melarikan diri masuk kedalam rumah danmenguncinya. Khorasan dan anak buahnhya menunggu di depan pintu gerbang. Melihat Dharma mengurung diri di pondok, Khorasan memerintahkan anak buahnay membakar pondok itu. Seketika itu juga api melahap pondok beratap alang-alang itu. Dalam pondok Dharma tergeletak di lantai sambil mengerang kesakitan. Rintihannya terdengar sampai ketelinga Khorasan. Khorasan tersenyum puas. Setelah api semakin besar, Khorasan mengajak anak buahnya meninggalkan rumah Dharma.
Dalam kesakitannya Dharma berdoa memohon bantuan dari dewa. Lalu muncullah singa yang perkasa. Sambil mengaum, singa itu berputar mengintari ruangan. APi pun berhenti menyebar. Sang singa kemudian mengaum keras. Bersamaan dengan itu Dharma melahirkan. Kembali singa mengaum keras. Dengan di kelilingi oleh api yangbelum padam, Dharma membopong bayinya sambil berkata penuh bahagia, “aku menjadi lengkap setelah memilikimu. Kau akan di panggil Ashoka.”
Sinopsis Ashoka Samrat episode
3
Sinopsis Ashoka Samrat episode 1
Sinopsis Ashoka Samrat episode 1
Episode pertama
Chakravartin Ashoka Samrat di buka dengan narasi dari seorang narator tentang
Ashoka. Narator berkata: “Ini bukan sekedar cerita tapi kisah hidup Prajurit
Ashoka yang memerintah Magadha selama 36 tahun dan seorang ksatria terhebat
sepanjangsejarah. Kakeknya, Chadragupta Maurya adalah singa, yang
turun tahta agar Bundusara bisa menggantikanya menjadi raja Magadha.
Chadragupta menikahi Helena dan membuat semua orang memusuhi Magadha, kaumnya
sendiri dan sesuatu yang unik akan segera terjadi..”
Lalu sebuah pintu
gerbang terbuka. Pendeta Chanakya berdiri di depan pintu itu sambil menatap Singasana. Dia melangkah perlahan namun
pasti. Terdengar auman singa. Chanaknya menghentikan langkahnya dan menatap
tahta dengan pandangan awas. Lalu seekor Singa muncul dari balik singgasana,
mengaum keras dan menerkam Chanakya.
Di
tempat tidurnya Chanakya tersentak. ternyata itu hanya sebuah mimpi. Dengan
rasa pemasaran bercampur aduk dengan rasa khawatir, Chanakya bangkit dari
tidurnya. Angin bertiup membalikan lembaran-lembaran buku diatas meja tulisnya.
Chanakya berdiri dari pembaringan dan menekan buku dengan tanganya. Seorang
pendeta muda datang menghampiri Chanakya dengan heran dan bertanya, “ada
apa Acharia Chanakya?” Chanakya memberitahu pendeta itu kalau dia bermimpi di
serang oleh seekor singa jelmaan dari Samrat Chandragupta. Chanakya juga
memberitahu pendeta muda itu kalau hanya waktu yang akan menunjukan apa yang
akan terjadi, tapi dia yakin sesuatu pasti akan terjadi..
Di sebuah lapangan
luas di Champagarh, Bindusara dan saudara-sudaranya sedang mengikuti sebuah
kompetisi yang diadakan oleh Mir Khorasan. Dalam kompetisi itu, tim BIndusara
melawan timJustin, saudaranya. Di tempat itu duduk dengan anggunnya,
ibu tiri Bindusara, Helena dan istri pertama Bindusara Ratu Charumitra.
Diantara keduanya juga hadir seorang pendeta.
Pemenang kompetisi itu
di tentukan oleh siapa yang sanggup meraih kulit binatang dari tanah dan
membawanya hingga garis finish. Ketika kompetisi
di mulai, Bindusara yang berhasil mengambil kulit itu dari tanah. Namun dalam
perjalanan menuju garis finish, Justinberhasil merebutnya. Bindusara
balik berusaha merebutnya kembali. Tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda
bercadar putih yang melesat menghampiri Justin dan merebut kulit itu
dari tanganya. Dari garis matanya yang indah dan memukau terlihat bahwa dia
adalah seorang wanita. Melihat itu Khorasan tersenyum misterius.
Sambil memegang
kain di tanganya, si gadis memacu kudanya dengan cepat. Tapi Bindusara berhasil
melampauinya dan berusaha merenggut kulit itu dari tanganya. Terjadi tarik
menarik antara keduanya. Ketika garis finish semakin dekat, Bindusara
dengan tenaga prianya membetot kuat hingga kulit itu lepas dari tangan si
gadis. Bahkan karena sakin kerasnya betotan itu, sampai-sampai cadar si gadis
terlepas dan menampakan wajah cantinya. Bindusara berhasil mencapai garis finish dan
semua orang bersorak gembira.Justin menghentikan kudanya tepat di samping
si gadis dan tersenyum penuh kepuasan. Tapi saat matanya melihat betapa cantik
si gadis, Justin terpana.
Sambil menatap
Bindusara, si gadis membuka tutup kepalanya sehingga rambutnya yang panjang
tergerai lepas menampakan atribut kebangsawanannya.
Sambil menenteng
kulit di tanganya, Bindusara naik kepodium di mana sudah menunggu Helena,
Chrumitra dan Mir Khorasan. Bindusara meletakkan kulit itu di kaki Helena.
Helena memuji Bindusara karena memenangkan kompetisi itu sekaligus
menyelamatkan kehormatan Dinasti Maurya karena kalah dari seorang wanita sangat
tidak layak bagi seorang Maurya. Dan Ratu Helena sangat senang karena Bindusara
menghormati dirinya sebagai seorang ibu raja. Bindu dengan hormat berkata kalau
dirinya mengerti arti seorang ibu dari Helena seorang saja, “saya menghormati anda dan bangga bahwa anda adalah
ibu saya.”
Mir Khorasan
mengumumkan kalau pemenangnya akan mendapatkan semua harta dan senjata yang
dimilikinya juga anak perempuannya. Noor Khorasan, atau si gadis bercadar.
Khorasan berkata kalau Noor akan menikahi Bundusara. Terdengar sorak sarai. Justin tertegun
seperti tak terima. Dia melirik Noor yang tersenyum puas. Kakak Noor menghampirinya
dan mengucapkan selamat.
Dengan arogan Noor
berkata kalau dirinya sekarang akan menjadi Ratu Magadha dan menjadi ratu di
hati Bindusara. Khorasan memberi selamat pada Noor. Charumita terlihat sedih
dan kecewa, Helena menghiburnya dengan berkata kalau Bindu menikahi Noor bukan
karena dia cantik tapi karena dia berasal dari keluarga berpengaruh.
Dengan pernikahan itu, kekuatan dan sekutu Magadha akan bertambah. Pendeta juga
membenarkan apa yang di katakan Helena, dia juga turut menghibur dengan berkata
kalau Charumita adalah ibu dari putra pertama Bindusara dan ratu utamanya.
Di kuilnya, Pendeta
Achari Chanakya mendapat berita tentang pernikahan Bindusara dengan Noor
Khorasan. Kabar itu juga mengatakan kalau Khorasan memberikan segalanya pada
putrinya saat dia menikah. Pendeta muda berpendapat kalau semua itu demi
mendukung kekuasaan Magadha, karena Khorasan sangat kuat. Chanakya meminta
pendeta muda agar memahami masalah dari sudut pandan politik. Dengan menikahkan
putrinya pada Bindusara, Khorasan ingin mengontrol Magadha.
Di Champagard, Helena
memberitahu pendeta kalau Bindusara akan pergi berburu. Dia meminta sang
pendeta agar menjaganya. Guruberjanji akan
menjaga keselamatan Bindu dengan baik. Bindusara sedang bersiap-siap akan
bernagkat berburu ketika Chanakya dan rombongan datang. Bindusara memberitahu
Chanakya kalau dirinya akan pergi berburu.Chanakya seharusnya memberi kabar
dulu sebelum datang. Dengan was-was Chanakya memberitahu kalau keadaan sedang
berbahaya, pe,buruan yang lain juga sedang berjalan, yang tujuannya adalah
merebut tahta Magadha. Bindusara tertegun, dan berkata kalau dia tak menyangka
dirinya memiliki musuh di Magadha. Dengan penuh percaya diri, Bindusara meminta
Chanakya agar tenang, karena dirinya tidak selemah yang di sangka Chanakya.
Sebelum pergi Bindusara meminta Chanakya agar tenangsaja, dia akan datang
kembali setelah berburu. Chanakya menatap kepergian Bindusara dengan tegang.
Di hutan, Bindusara
dan pasukannya sedang berburu. Sambil meminum anggur, Bindusara menunggu
hewan buruan muncul. Tiba-tiba dia mendengar suara babi hutan. Bindu meneguk
beberapa gelas anggur sebelum kemudian dia turun dari kudanya dan memasang anak
panah. Seorang diri, Bindu mengendap-endap membidik sasaran. Seekor babi hutan besar muncul di depannya. Dengan cepat
babai itu melesat kearah Bindu. Tapi bindu lebih cepat lagi. Sebelum babai itu
menerjangnya, Bindu melepaskan anak panah yang tepat mengenai kepala si babi hutan. Babi hutan
itu tergeletak tak berdaya. Sambil menginjak tubuh babi hutan, Bindu
mengumumkan kalau pernikahannya akan segera di langsungkan. Belum selesai
Bindu bicara, tiba-tiba sebuah anak panah melesat kearahnya dan mencap di dada.
Bindusara terpelantik kebelakang dengan darah membasahi dadanya. tak lama
kemudian beberapa anak panah menghujani para prajurit
Magadha yang masih tertegun kaget. Lalu muncul beberapa orang dan menyerang
rombongan Bindusara. Seorang prajurit menyuruh Bindusara melarikan diri.
Bindusara menurut. Ketika sampai di tepi air terjun, Bindusara
berhenti sebentar dan mencoba mencabut anak panah yang menancap di tubuhnya.
Tapi naas, dia tercebur ke dalam air terjun. Musuh yang sudah tiba di sana
menyerigai puas melihat tubuh Bindusara lenyap di telan derasnya air
terjun.
Beberapa orang gadis
yang sedang mencoba menangkap kupu-kupu di hutan terkejut melihat mayat-mayat
prajurit bergelimpangan. Salah satu gadis itu memanggil nama Dupatrati.
Yang di panggil keluar
dari gubuknya dan berlari kea arah datangnya panggilan. Dia terkejut melihat
tubuh para prajurit itu, dengan prihatin dia berkata, “manusia
memiliki sisi jahat dan baik…. orang yang dapat mengontrol kemarahan adalah
pemenangnya…” Dupatrati melihat tubuh seorang prajurit bergerak-gerak. Cepat
dia menghampiri prajurit itu. Dengan susah payah si prajurit mengangkat
tanganya dan menunjuk ke sebuah arah. Belum sempat Dupatrati bertanya, prajurit
itu menghebuskan nafas terakhirnya.
Dengan rasa ingin
tahu, Dupatrati dan kawan-kawan pergi kearah yang di tunjuk si prajurit. Mereka
mengikuti jejak tetesan darah hingga ke tepi air terjun. Dengan tatapan
mencari-cari para gadis menyusuri riak-riak air yang terjun bebas menimpa
bebatuan. Hampir saja mereka putus asa, ketika tanpa di sangka-sangka Dupatrati
melihat sesosok tubuh tergeletak di air dangkal.
Helena dan Justin
berdiri diatas balkon istana menatap seorang prajurit berkuda yang menuju ke
gerbang istana. Pendeta menunggu prajurit itu di depan pintu gerbang. SI
prajurit turun dan menyerahkan mahkota Bindusara pada si pendeta. Dengan wajah
penuh sesal si pendeta membawa mahkota itu kepada Helena. Dengan dingin Helena
berkata, “aku inginkan kepalanya, bukan mahkotanya!” Justin menatap mahkota
Bindusara dengan senyum menyerigai.
Sesosok tubuh
tergeletak di tepi danau dengan anak panah menancap di dadanya. Para gadis menghampirinya.
Dupatrati turun ke sungai dan membalikan tubuh itu, terlihatlah wajah Bindusara
yang tak berdaya. Di benteng, Pendeta meminta maaf pada Helena karena tidak
membawa kepala BIndusara, karena siapapun pasti dapat melihat kejahatannya.
Pendeta menyakinkan Helena kalau Bindusara tidak mungkin hidup, dia pasti sudah
mati.
Dupatrati dan
kawan-kawan membawa tubuh Bindusara ke atas sebuah batu. Dupatrati mencabut
anak panah dari dada Bindu dan menghentikan aliran darahnya. Para gadis dengan
cepat menyiapkan ramuan obat dan bekerja keras untuk menyadarkan Bindusara.
Pada Justin Helena
berkata kalau Ayah Justin tidak menjadikan Justin raja Magadha, karena itu
Bindusara harus mengalami semua ini. Helena membuat rencana untuk menghancurkan
Magadha dengan memberitahu rakyat kalau Bindusara sudah mati dan Magadha tidak
punya raja. taklama kemudian Magadha menjadi lautan api. Para musuh menyerang
dan berupaya merebut Magdha. Masing-masing raja musuh mengklaim Magadha sebagai
miliknya. Salah satunya adalah Veer Phat.
Melihat kehancuran
Magadha, Chanakya terlihat gunda dan tegang. Para pendeta mengajukan berbagai
pertanyaan padanya. Chanakya tidak menjawab. Dia melangkah ke balkon dan
menatap magadha yang sudah menjadi lautan api dengan tatapan prihatin. Tiba-tiba
terdengar auman singa. Chanakya mencari arah datangnya auman itu. Dia melihat
singa yang sama yang pernah di liatnya dalam mimpi berdiri gagah di atas baatu
sambil mengaum penuh wibawa. Chanakya dengan bijak berkata kalau situasi ini di
buat dengan sengaja. Dan siapapun yang melakukan itu, dia adalah musuh Magadha.
Orang yang menguasai dan memerintah magadha. tapai apapun yang akan terjadi,
Chanakya tidak akan membiarkan usaha itu berhasil.
Justin ikut helena
menemui ayahnya, Seleucus. Ayah Helena menyambut kedatangan anak dan cucunya
dengan senang hati. Helena bertanya, “ayah, apakah anda siap memenangi
Magadha?” Seleucus tertawa bahagia, ” aku kalah dari Chandragupta Maurya dulu
dan aku masih ingat penghinaan itu. Aku telah mempersiapkan diri untuk merebut
Magadha bertahun-tahun.” Helena memeritahu Seleucus kalau Justin akan membawa
pasukan Magadha keluar untuk menaklukan musuh. Bersamaan dengan itu Seleucus
dapat menyerang Magadha dan menghapus Dinasti Maurya dari bumi Magadha.
Seleucus terlihat senang dan mengucapkan terima kasih pada Helena atas semua
bantuannya dan atas usahanya mempersiapkan Justin untuk situasi seperti ini.
Justin berkata kalau dirinya telah belajar semua nya. Seleucus menyebut Justin
sebagai masa depan Magadha. Justin menyerigai jahat, “aku juga masa depan Noor
Khorasan.”
Kakak Noor Khorasan yang menyertai Bindusara berburu,
ternyata juga terbunuh dalam serangan itu. Pemakanamnnya di adakan dengan penuh
khidmat. Chanakya datang ke upacara itu. Khorasan mengizinkannya masuk. Chanakya
mengucapkan belasungkawan dengan penuh takzim.Khorasan berkata kalau Chanakya
bukanlah pemberi belasungkawa yang dia harapkan. Chanakya menyahut, “saya
setuju. tapi kebenarannya adalah musuh Magadha dan musuh anda adalah sama. Kita
harus bekerja sama untuk menyelamatkan Magadha dan untuk membalaskan kematian
anak anda.” Khorasan bertanya siapa dia? Chanakya menjawab kalau Khorasan akan
segera mengetahuinya. Hanya saja Chanakya ingin Khorasa membantunya
mengembalikan Bindusara sebagai raja Magadha lagi. Khorasan dengan sedikit
enggan meminta Chanakya agar sadar, kalau Bindusara sudah mati. Chanakya
mengatakan selama dia tidaik melihat mayat Bindusara, selama itu pula dia tetap
hidup bagi Chanakya. Chanakya meminta Lhorasan menemukan BIndusara, karena dia
tidak dapat mempercayai siapapun. Dan lagi hanya jika bindusara kembali saja,
maka Noor Khorasan anaknya akan memiliki masa depan yang cerah.
Di hadapan dewan
istana dan ratu Charumitra, pendeta berpura-pura prihatin dengan kondisi
Magadha. Dia meminta mereka semua berhenti meratapi kematian Bindusara dan
bangkit menyelamatkan Magadha. Karena kalau tidak, semua kehancuran ini akan
menjadi penghinaan bagi Dinasti Maurya. Menurut pendeta, satu-satunya cara
untuk menyelamatkan Magadha adalah menganagkat raja baru. Helena mengusulkan
kalau anak Bindusara, Sushim akan menjadi raja Magadha.
Tapi pendeta tidak
setuju, karena mereka tidak butuh raja atas nama saja, tapi raja yang
sesungguhnya. Sushim baru berusia 1 tahun, bagaimana dia akan memerintah
Magadha? Saran pendeta adalaah agar mereka memilih raja yang kuat, yang tahu
bagaimana memerintah negara, mempertahankannya dari serangan musuh dan memiliki
kekuatan untuk menghentikan semua kerusuhan ini. Pendeta menunjuk Justin.
Helena tidak setuju, dia merasa keberatan. Begitu pula Justin, dia menolak,
“aku berduka karena kematian kakak, dan aku tidak bisa mengambil tempatnya.
Tidak akan pernah!” Pendeta membujuk, “jangan terlalu emosional. Pikirkanlah
Magadha.” Pada Charimutra, pendeta berkata kalau Sushim dapat di serang juga,
dan satu-satunya yang dapat melindungi Magadha hanyalah Justin. Pendeta meminta
peretujuan para menteri. Para menteri setuju. hanya satu menteri yang
menyarankan agar mereka meminta pendapat Khorasan tentang keputusan ini. Kalau
dia setuju, maka mereka semua juga setuju.
Khurasan bersiap-siap
untuk melakukan pencarian. Dia berpamitan pada Noor dengan berkata kalau
Bindusara masih hidup, maka dia akan menemukannya dan membawanya pulang.
Setelah berkata begitu dia pergi.
Di depan dewan istana,
pendeta berkata kalau dirinya tidak tahu di mana Khorasan berada. Dan jika
mereka menantiu persetujuan Khorasan, maka Magadha akan terbakar habis.
Keputusan harus diambil sekarang. Helena berkata kalau semua orang
menginginkannya maka dia setuju dengan ususlan ini. “untuk dinasti Maurya.
Justin, kau harus menerima penobatan!” Pendeta, Helena dan Justin saling
bertukar sambil menyerigai puas melihat rencananya berhasil.
Sementara itu,
Dupatrari berusaha keras mengobati Bindusara. Setelah susah payah, akhirnya Bindusara
tersadar.
Di istana, Justin di
nobatkan menjadi raja baru Magadha. Dengan suara penuh wibawa, pendeta berkata,
“Mulai hari ini, Justi adalah Raja baru Magadha!”
Sinopsis
Ashoka Samrat episode 2
Jumat, 04 September 2015
Sinopsis Ashoka
Drama India Ashoka ANTV. Film India Ashoka merupakan film sejarah yang mengangkat cerita tentang Chakravartin Ashoka Samrat atau yang dikenal dengan nama Ashoka. Ashoka adalah pemimpin pertama Bharata (India) Kuno setelah para pemimpin Mahabharata yang sangat terkenal. Drama Ashoka ini Sebelumnya sudah pernah di buat Filmnya yang di bintangi oleh Shakhrukhan dan Kareena Kapoor pada tahun 2003.
Film India Ashoka ANTV :
Judul : Chakravartin Ashoka Samrat / Ashoka
Genre : Drama | Sejarah
Jumlah Episode : On Going
Periode Tayang : 2 Februari 2015 - sekarang
Jadwal Tayang : Colors TV (India) | ANTV (Indonesia) Senin-Minggu 21.00 WIB
Pemeran Utama : Manoj Joshi | Siddharth Nigam | Pallavi Subhash | Suzanne Bernert | Sameer Dharmadhikari | Prinal Oberoi
Plot Film India Ashoka ANTV :
Cerita dimulai dari Chanakya yang baru bermimpi yang mana dalam mimpi tersebut Chandragupta Maurya menampakkan diri dan meramalkan tentang akan datangnya bahaya yang mendekati Kekaisaran Maurya yang keika itu Bindusara adalah kaisar Maurya. Cerita kemudian berfokus pada Ashoka muda mendapatkan bimbingan dari Chanakya dalam keadaan sulit.
Sementara di sisi lain permainan menaklukkan seluruh kerajaan yang sedang dimainkan oleh Helena. Helena ingin menyingkirkan anak tirinya Bindusara dari tahta Magadh dan ingin menempatkan anak kandunganya sendiri yaitu Justin.
Sedangkan permaisuri Bindusara yakni Charumitra dan Noor menginginkan anak-anak mereka yang mengambil alih tahta setelah Kaisar Bindusara.
Nama "Ashoka" dalam bahasa sangsekerta berarti "tanpa duka". Chakravartin Ashoka Samrat atau yang dikenal dengan nama Ashoka yang Agung merupakan penguasa Kekaisaran Maurya sejak 273 SM sampai 232 SM. Pada masa kekaisaran Ashoka, ia berhasil menguasai sebagaian besar benua India yang sekarang menjadi negara Bangladesh sampai Afghanistan.
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 1
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 2
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 3
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 4
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 5
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 6
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 7
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 8
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 9
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 10
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 11
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 12
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 13
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 14
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 15
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 16
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 17
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 18
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 19
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 20
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 21
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 22
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 23
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 24
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 25
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 2
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 3
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 4
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 5
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 6
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 7
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 8
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 9
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 10
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 11
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 12
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 13
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 14
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 15
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 16
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 17
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 18
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 19
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 20
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 21
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 22
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 23
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 24
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 25
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 26
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 27
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 28
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 29
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 30
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 31
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 32
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 33
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 34
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 35
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 36
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 37
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 38
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 39
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 40
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 41
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 42
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 43
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 44
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 45
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 46
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 47
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 48
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 49
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 50
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 51
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 52
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 53
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 54
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 55
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 56
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 57
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 58
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 59
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 60
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 61
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 62
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 63
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 64
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 65
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 66
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 67
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 68
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 69
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 70
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 71
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 72
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 73
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 74
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 75
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 76
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 77
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 78
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 79
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 80
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 81
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 82
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 83
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 84
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 85
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 86
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 87
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 88
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 89
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 90
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 91
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 92
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 93
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 94
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 95
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 96
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 97
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 98
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 99
Sinopsis Chakravartin Ashoka Samrat Part 100
Langganan:
Postingan (Atom)


















